Lombok Tengah, MediaMe.Id. Para Santri di Yanmu NW Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus di pacu dalam kegiatan hal-hal positif yang akan merubah karakter dan mental. Seperti harus bangun dini hari untuk melaksanakan sunah tahajjud, beribadah dan mendengarkan kajian-kajian kitab ulama terdahulu di depan ustadz hingga waktu sekolah tiba.
Begitu masuk waktu Sore, para santri di sibukkan dengan kegiatan ekstakulikuler dan Diniyah (kajian agama), dilanjutkan mengaji dan berdiskusi di malam harinya.
Jam istirahat (tidur) relatif singkat karena para santri, disuguhkan makan dengan menu makan has pondok seperti tahu, tempe dan sayur-sayuran.
Seminggu sekali, disuguhkan menu makan dilengkapi ayam dan daging. Setelah mereka makan, diharuskan istirahat dalam ruangan besar yang berisikan puluhan santri.
“Hidup ini adalah proses untuk masa depan, kesedihan yang mereka rasakan sekarang di masa mondok akan mereka ceritakan nanti dengan penuh kebahagiaan,” tutur Kepala Bidang Dikjar Tanmu NW Praya, TGH. Mansub Amri.
Mansub Amri menuturkan salah seorang Alumni Yanmu NW Praya tahun 2008 yakni, Kamah Yudiarto.
Ustadz kelahiran Bayan Lombok Utara ini mewakili identitas santri yang lebih modern. Terkadang Kamah Yudiarto kerap tampil mengenakan jas di forum-forum penting pemerintahan. Namun sesekali ia mengenakan sarung dan membaca kitab layaknya masih sebagai Santri.
Sebagai salah satu Anggota Dewan DPRD Lombok Utara ini tetap menjaga nama baik Yanmu, bahkan mendorong adik-adik Santri terus semangat.
“Alhamdulillah bersyukur kepada Allah dan terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Abah Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc.,M.Ag dan semua ustzahdz-ustzah di YANMU NW Praya, yang telah banyak berkontribusi dalam membentuk karakter dan keilmuan yang kami peroleh semasa mondok di YANMU NW Praya, dan sangat berguna untuk kami di masa sekarang dan masa depan nanti”. Ujar Ustadz Kamah Yudiarto. (ME. Red)



