Pesan Gus Yaqut Saat Di Lombok, Ingatkan Para Wisatawan Pentingnya Prokes Kesehatan

  • Share

Lombok Tengah, MediaMe.Id. Menteri Agama RI. H. Yaqut Chalil Quomas beserta Ketua Pengurus Pusat Dharma Wanita Persatuan Ibu Hj.Eny Retno Yaqut ditemani Pejabat Lingkup Kanwil Kemenag NTB dan Kepala kantor Kemenag Lombok Tengah saat berkeliling di Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut Lombok Tengah setelah melaksanakan beberapa rangkaian kunjungan kerja di Kab/Kota di Nusa Tenggara Barat.

Suasana perkampungan yang Asri, jauh dari keramaian dan nyaman serta masih kukuh mempertahankan tradisi lama, diantara model rumah khas Suku Sasak dan terampil menenun, ini yang membuat Menteri Agama RI beserta Ibu Eny Yaqut merasa nyaman berada di tengah tengah Perkampungan Sade, Desa Rembitan Pujut Lombok Tengah, ungkap Gus Yaqut di lokasi Sade, 12 – 03.

Sebagai desa wisata yang terkenal dengan “the tradisional house’s of Lombok” serta memiliki  produk lokal yang memikat dan di seluruh rumah yang ada di Sade memiliki hasil kerajinan tangan masing-masing. Mulai dari gelang, baju hingga selendang diproduksi langsung dari rumah mereka masing-masing dan siap di bungkus untuk oleh oleh.

Tak lupa Gus Yaqut beserta ibu menyapa warga masyarakat yang berjualan di sekitar lokasi yang berbentuk lapak lapak dengan disain unik ciri khas Suku Sasak, Sasak adalah nama suku yang ada di Pulau Lombok.

“Berapa harganya ini bu,” tanya Ibu Eny Yaqut kepada ibu Siti yang sedang asyik menenun kain songket miliknya.

“Murah Bu, mulai dari 200-300 ribu,” jawabnya sambil meluruskan benang-benang sesekannya.

Menteri Agama RI sepanjang perjalanan banyak bertanya kepada masyarakat, sambil duduk, Menteri Agama menanyakan jumlah wisatawan yang datang ke Sade sebelum dan setelah pandemi COVID-19.

“Biasanya berapa wisatawan yang datang” tanya Menteri Agama RI kepada Suryadi salah satu tur Guide saat memasangkan kain songket,sabuk bebet dan sapuk ( Pengikat Kepala Tradisional Khas Suku Sasak ),selain melihat langsung Pembuatan Kain tenun songket,Menteri Agama RI beserta Ibu Eny Retno Yaqut juga di suguhkan atraksi Kesenian Peresean, kesenian khas suku Sasak yang di mainkan oleh dua orang dewasa dengan perangkat dari rotan sebagai pemukul dan ende bahasa Sasak yang berarti perisai yang di buat dari kulit Sapi.

“Kalau sebelum COVID-19 pak, wisatawan mancanegara sampai tiga ribu, untuk yang wisatawan lokal sampai delapan ribu setiap bulannya pak,” jawab Suryadi.

“Untuk saat ini bagaimana Pak Surya, apa sudah mulai ada yang berdatangan, jangan lupa, ingatkan seluruh wisatawan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan,” pesan Gus Yaqut. (ME. Red)

  • Share